Menundukkan Pandangan Sambil Berkhalwat menurut para ulama


“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha meneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan.(An Nur 30)

Ayat ini turun saat Nabi saw. pernah memalingkan muka anak pamannya yang bernama al-Fadhl bin Abbas, dari melihat wanita Khats’amiyah pada waktu haji, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita itu. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah saw., “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau saw. menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.

ayat tersebut memerintahkan menundukkan sebagian pandangan dengan menggunakan min tetapi dalam hal menjaga kemaluan, Allah tidak mengatakan wa yahfadhu min furujihim (dan menjaga sebagian kemaluan) seperti halnya dalam menundukkan pandangan yang dikatakan di situ yaghudh-dhu min absharihim. Ini berarti kemaluan itu harus dijaga seluruhnya tidak ada apa yang disebut toleransi sedikitpun. Berbeda dengan masalah pandangan yang Allah masih memberi kelonggaran walaupun sedikit, guna mengurangi kesulitan dan melindungi kemasalahatan, Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara. ini pun berkaitan dengan hadits zinanya mata,hati,lisan, yang dibenarkan oleh kemaluan
Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi dan mengarah kepad zina mata( yang nanti hadits2 saling berhubungan),seperti asbabun nuzulnya Fadl bin Abbas berlama-lama memandang wanita

Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Ali:
“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi) Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar(kalau liar psti dengan syahwat) dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata.

Seperti juga perkataan Iman Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Hendaklah orang yang berakal itu waspada dari sikap mengobral pandangan. Sesungguhnya mata, ketika melihat seseorang yang oleh syariat dilarang untuk digauli dan dicampuri, mata akan menilainya sebagai sesuatu yang paling indah, paling baik, paling sesuai dan paling utama dari sesuatu yang halal dan baik baginya. Berapa banyak pandangan yang membuat pelakunya menjadi gelisah.” (al-Furuu’)

(Ibnu Katsir)
Tentang sebagian pandangan yang khianat:
Ibnu Abbas RA berkata tentang firman Allah Ta’ala “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS Al Mu’min :19)

“Yaitu seorang laki2 yang masuk ke sebuah penghuni rumah (bertamu) yang didalamnya terdapat seorang wanita cantik, atau wanita itu sedang melewatinya. Jika mereka(wanita tadi dan penghuni rumah)dia (laki2 itu) pun menoleh kepada wanita itu dan jika mereka mengawasi, dia pun menahan pandangannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui hatinya yang berkeinginan seandainya dia berhasil melihat auratnya (HR Ibnu Abi Hatim)

Seperti dijelaskan diatas,bahwa menundukkan/menahan pandangan yaitu berkaitan dengan kesopanan mata yang tidak mengumbar kesana kemari(dengan syahwat),seperti menundukkan suara.Mata itu dijaga agar tidak dilepaskan begitu saja( bukan nya merem sama sekali atau nunduk,namun caranya bisa seperti itu)

Hadits
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dari Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam bersabda: Telah di tetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul (meraba), kaki zinanya adalah melangkah, hati berkeinginan dan berangan-angan, dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu adalah kemaluan.(HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Makna dari hadits di atas adalah anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Maka di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram (untuk dimasuki karena bukan pasangan hidupnya yang sah, pent.). Dan di antara mereka ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau untuk melihat zina, atau untuk menyentuh wanita non mahram atau untuk melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita non mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi. Sementara kemaluannya membenarkan semua itu atau mendustakannya.
(Syarhu Shahih Muslim, 16/206)

Seperti kata Imam Nawawi
Ungkapan “kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya”, yang merupakan pengertian zina yang sesungguhnya, itu menunjukkan penjelasan terhadap “sesuatu” pada ungkapan-ungkapan sebelumnya.
Zinanya mata adalah melihat [sesuatu], zinanya lisan adalah mengucapkan [sesuatu], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [sesuatu], sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu [semua]. … (HR Bukhari & Muslim,dll)

Jadi, “sesuatu” yang hendaknya kita hindari itu adalah yang mengarah pada hubungan kelamin(ungkapan Iman Nawawi Zina secara Hakiki,perkara yang mengantrakan pada zina). Inilah yang dimaksud dengan “sedangkan kemaluan membenarkan atau mendustakan itu [semua]“.Kalau pada surat Annur yaitu menundukkan sepagian pandangan dan menjaga kemaluannya

Zina hati” adalah “mengharap-harap kesempatan untuk berzina(hakiki)” atau “memelihara hasrat untuk berzina,Zina mata melihat untuk pemenuhan zina,zina tangan,zina kaki(seperti menuju tempat berzina(kemaluan),dll)
Dengan demikian, melihat nonmuhrim tidak selalu merupakan zina mata. Yang tergolong “zina mata” (berzina dengan mata) adalah melihat dengan syahwat,yang mengarah pada zina yang sebenarnya seperti nonton film porno,dll

Secara demikian pulamengekspresikan cinta (spt contoh2 dalam buku Ibnu Hazm dan Ibnul Qayyim) bukanlah tergolong “zina lisan”. Yang tergolong “zina lisan” adalah yang disertai dengan nafsu birahi. Contohnya: ucapan mesum kepada sang kekasih seperti aku ingin berciuman denganmu

Dengan demikian pula merasakan getaran di hati ketika memikirkan seseorang bukanlah tergolong “zina hati”. Pengertian “zina hati” (berzina dalam hati) adalah mengharap dan menginginkan pemenuhan nafsu (syahwat) yang mengarah pada zina Contohnya: berpikiran mesum, “nanti aku maen ah ke kosan kau,kita tutup kamar yu ’.”

Demikian pula untuk “zina tangan”, “zina kaki”, dan berbagai aktivitas mendekati-zina lainnya

Ibnu Abbas menafsirkan hadits dari Abu Hurairah diatas bahwa zina mata,hati,lisan termasuk dosa kecil,tetapi tetap saja itu berdosa ,bahkan jika menyepelekan dosa kecil bis amenjadin dosa besar

Misalnya Jika ada pria begitu terpikat pada kecantikan wanita, sehingga mengarah pada “zina mata“, (dengan nafsu dan syahwat)padahal sang wanita sudah menutup aurat, maka yang salah, sehingga perlu diluruskan, ialah si pria. Caranya? Tundukkan pandangan! Seperti dalam surat An Nur,

Ibnul Qayyim dalam bukunya yang legendaris (semua bukunya legendaris)jangan dekati zina :
“Menundukkan pandangan mengandung rahasia hikmah yang banyak, diantaranya ia adalah perintah Allah, melaksanakannya berarti membawa kebahagiaan, mencegah pengaruh negatif akibat pandangan yang berbisa, menghidupkan ketabahan dan memberi ketenangan jiwa,Menjadikan hati bercahaya, pelakunya akan memiliki ketajaman firasat, menutup pintu-pintu gangguan syaithan, bahwa antara mata dan hati saling mempengaruhi.”

Untuk menjaga ‘pintu perzinaan’ dari terjadinya ‘zina lidah’, kita juga menggunakan kaidah “tundukkan tutur-kata”. Maksudnya, ketika lawan-jenis yang menyimak tutur-katamu terpesona pada ke-sexy-an suara kita keraskan suara atau hentikan sajalah tutur-kata
“Janganlah kau terlalu lembut bicara supaya [lawan-jenis] yang lemah hatinya tidak bangkit nafsu [syahwat]-nya.” (QS al-Ahzab [33]: 32)
“Katakanlah yang baik-baik atau diam sajalah.” (al-hadits)

Dalamm buku Kebebasan Wanita (pasti tau ulama sesepuh IM ini)

Berdasarkan dalil2 kuat yang relevan, akhirnya Abu Syuqqah menyimpulkan, “adanya pertemuan antara laki-laki dan wanita mungkin menyebabkan timbulnya sikap saling memandang antara mereka. [Namun] kejadian seperti itu tidak menjadi masalah, sepanjang pandang-memandang di antara mereka tidak didasarkan pada syahwat serta keduanya sama-sama berniat dan melaksanakan menahan pandangan.”

Kondisi yang membolehkan kita memandang lawan-jenis adalah ketika tidak terkagum-kagum pada pesona seksual dan tidak memandangi aurat. Selama berada dalam kondisi ini, kita tidak dituntut untuk memalingkan muka (seperti Fadhl) atau pun diperintahkan untuk tidak melanjutkan pandangan (seperti Ali)

Dari ‘Aisyah r.a. dikatakan: Ketika itu adalah hari raya, dan pada waktu itu orang Habsyah sedang bermain tameng dan tombak. Entah aku yang meminta atau Nabi sendiri yang berkata kepadaku: ‘Apakah kamu ingin melihatnya?’ Aku jawab: ‘Ya.’ Maka aku disuruhnya berdiri di belakangnya [sehingga aku melihatnya]. (HR Bukhari)

Dalam hadits ini diisyaratkan bolehnya memandang lawan-jenis seraya mengagumi keahliannya atau sekurang-kurangnya menyaksikan penampilan non-seksualnya.Namun jika sudah memasuki atau berpaling dan tidak focus,dan malah memperhatikan objek seksualnya maka benar sabda Rasul
Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang [lawan-jenis] yang [membangkitkan syahwat] tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim)

Jika sudah mulai gelisah seperti kata Imam Ahmad,maka palingkanlah mukamu(tundukkan pandangan).Atau seperti yang diungkapkan Ibnul Qayyim ,jika pandangan sudah berbisa,maka tundukkanlah pandanganmu maka itu akan mencegah pengaruh negatif akibat pandangan yang berbisa, menghidupkan ketabahan dan memberi ketenangan jiwa,Menjadikan hati bercahaya, pelakunya akan memiliki ketajaman firasat, menutup pintu-pintu gangguan syaithan, bahwa antara mata dan hati saling mempengaruhi.”

Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Fatwa Kontemporer mengatakan:
Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini merupakan pintu bahaya dan penyulut api. Sebab itu, ada ungkapan, “memandang merupakan pengantar perzinaan.”

Jadi, memandang itu hukumnya boleh dengan syarat jika tidak dibarengi dengan upaya “menikmati” dan bersyahwat. Jika dengan menikmati dan bersyahwat, maka hukumnya haram. Karena itu, Allah menyuruh kaum mukminah menundukkan sebagian pandangannya sebagaimana Dia menyuruh laki-laki menundukkan sebagian pandangannya.(dalil2nya bisa lsg baca bukunya ,salah 1 ttg hadits Aisyah melihat permainan,namun aisyah sendiri di berikan selendang oleh Rasulullah)
Firman Allah:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pendangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’” (an-Nur: 30-31 )

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah RA, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda “Tidaklah seorang muslim melihat kecantikan seorang wanita kemudian ia menundukkan pandangannya, melainkan Allah akan menggantinya dengan ibadah yang dia rasakan manisnya”. Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ dari Abdullah bin umar, Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Aisyah r’anha, akan tetapi sanad2nya dha’if
Tentang berdua2an, tidak ada perselisihan para ulama,para ulama sudah mengetahui dan menyatakan dengan seterang2nya
“Datang seorang wanita dari kaum Ansor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat dengannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Demi Allah kalian (kaum Anshor) adalah orang-orang yang paling aku cintai.’” (HR. Al-Bukhari no. 5234)

Imam Al-Bukhori memberi judul hadits ini dengan perkataannya, “Bab: Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita jika di hadapan khalayak.”

Ibnu Hajar berkata, “Imam Al-Bukhori menyimpulkan hukum (dalam judul tersebut dengan perkataannya) “di hadapan khalayak” dari perkataan Anas bin Malik dari riwayat yang lain (*) “Maka Nabi pun berkhalwat dengannya di sebagian jalan atau sebagian السكك (sukak).” Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berjalan yang biasanya selalu dilewati manusia.”

“Dari Anas bin Malik bahwasanya seorang wanita yang peikirannya agak terganggu berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah, saya punya ada perlu denganmu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, ‘Wahai Ummu fulan, lihatlah kepada jalan mana saja yang engkau mau hingga aku penuhi keperluanmu.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat dengan wanita tersebut di sebuah jalan hingga wanita tersebut selesai dari keperluannya.”

Ibnu Hajar berkata, “Yaitu ia tidak berkhalwat dengan wanita tersebut hingga keduanya tertutup dari pandangan khalayak (tersembunyi dan tidak kelihatan-pen), namun maksudnya dibolehkan khalwat jika (mereka berdua kelihatan oleh khalayak) namun suara mereka berdua tidak terdengar oleh khalayak karena ia berbicara dengannya perlahan-lahan, contohnya karena suatu perkara yang wanita tersebut malu jika ia menyebutkan perkara tersebut di hadapan khalayak.”

Ada khalwat yang diharamkan dan ada khalwat yang diperbolehkan:
Khalwat yang diperbolehkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama wanita tersebut, yaitu memojok dengan suara yang tidak di dengar oleh khalayak namun tidak tertutup dari pandangan mereka. Hal ini juga sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga tidak kelihatan oleh orang-orang sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala itu, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga orang-orang di sekitarnya tidak mendengar keluhan sang wanita dan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut. Oleh karena itu Anas mendengar akhir dari pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut lalu iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan wanita itu karena ia tidak mendengarnya.” (Fathul Bari 9/413.)
Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:

“Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya.”
Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini (yaitu hadits Anas di atas) menunjukan akan bolehnya berbincang-bincang dengan seorang wanita ajnabiah (bukan mahrom) dengan pembicaraan rahasia (diam-diam), dan hal ini bukanlah celaan terhadap kehormatan agama pelakunya jika ia aman dari fitnah. (Fathul Bari 9/414)
Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara lelaki dan wanita sehingga tertutup dari pandangan manusia. Berkata Al-Qodhi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniah tentang sifat penegak amar ma’ruf nahi mungkar, “Jika ia melihat seorang pria yang berdiri bersama seorang wanita di jalan yang dilewati (orang-orang) dan tidak nampak dari keduanya tanda-tanda yang mencurigakan maka janganlah ia menghardik mereka berdua dan janganlah ia mengingkari. Namun jika mereka berdua berdiri di jalan yang sepi maka sepinya tempat mencurigakan maka ia boleh mengingkari pria tersebut dan hendaknya ia jangan segera memberi hukuman terhadap keduanya khawatir ternyata sang pria adalah mahrom sang wanita. Hendaknya ia berkata kepada sang pria -jika ternyata ia adalah mahrom sang wanita- jagalah wanita ini dari tempat-tempat yang mencurigakan. -Dan jika ternyata wanita tersebut adalah wanita ajnabiah- hendaknya ia berkata kepada sang pria, ‘Aku ingatkan kepadamu dari bahaya berkhalwat dengan wanita ajnabiah yang bisa menjerumuskan.’

Tentang menjaga kesucian diri dalam buku Ibnu Qayyim Al Jauziyah,dimana masih banyak kisah tentang hubungan percintaan dengan batasan-batasan syar-I dan saling mencintai bukan karena nafsu tetapi karena Allah

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(Annur 30)

Sumber: Fatwa Kontemporer Syaikh Yusuf Qardhawi
Kebebasan Wanita : Abu Syuqqah
Ulama spesialis hati dan percintaan ,Ibnul Qayyim Al Jauziyah : Taman Orang Jauth Cinta,Jangan Dekati Zina
Mbah Google

    • sidhanimuth
    • March 14th, 2010

    wow.. berat.. F@_@

    huff.. oke.. sy coba cerna perlahan-lahan
    (sabar ya kak, hohoho)

    jadi..

    1. Memandang itu blh asal tanpa nafsu syahwat
    2. Khalwat itu boleh asal di tempat rame

    nah..
    yg sy tangkep itu, memandang dan khalwat itu bisa dilakukan asal ada agendanya ato ga sengaja. Nah kl g ada agendanya trus tujuannya apa?

  1. kalo ga ada agendanya,ngapain berdua2an?

    • ituu.. ketemuan berdua tanpa agenda (atau bisa disebut agendanya utk pacaran) itu aneh bgt

      Kakak wkt itu nulis ini..

      ‘Abdul Malik bin Quraib telah menceritakan kisah berikut:
      Aku pernah bertanya kepada seorang lelaki dari daerah pedalaman: “Ceritakanlah kepadaku malam harimu bila kamu bersama dengan si Fulanah, wanita yang kamu cintai.”

      Lelaki pedalaman itu menjawab: “Baiklah. Jika aku berduaan dengannya, aku mengambil posisi menghadap ke arah rembulan sehingga dia dapat melihatku, tetapi bila mulai condong ke arah yang lain, barulah aku dapat melihatnya.”

      Aku bertanya: “Lalu apa saja yang kamu lakukan saat kamu berduaan dengannya tanpa ada orang lain [di antara kalian]?”

      Ia menjawab: “Masih dalam batasan yang dihalalkan oleh Allah dan jauh dari yang diharamkan oleh-Nya, yakni dengan isyarat yang sopan dan berdekatan tetapi tanpa bersentuhan. Demi usiaku, perjalanan waktu terasa begitu lama bila jauh darinya, dan terasa begitu cepat bila bersama dengannya. Cukup bagimu hal itu saat pacaran dengan kekasihmu.”

      Tidak sekali-kali gelora cinta mengajakku berbuat mesum,

      melainkan rasa malu dan harga diriku telah mencegahku.

      Tanganku sama sekali tidak berani melakukan hal yang mesum,

      dan begitu pula dengan kakiku, tak pernah kulangkahkan kepada hal yang mencurigakan.

      Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 617 & 621.

      Tp sy prnh baca kutipan ini..
      Ibnul Qayyim menjelaskan,
      ”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.

      Bknnya sy blg jatuh cinta itu g blh, tp kan Rasulullah dah ngajarin cara memenej hati, knp minta kebebasan lbh? Saya minta tlg kak dicek dua hadits dibawah ini shahih ato ga

      Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
      “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

      “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

      • oiya lupa, mksd sy tanpa agenda itu.. ya tanpa agenda kecuali utk ketemuan, pandang2an, dll yg biasanya disebut pacaran.. kan yg dicontohin Rasulullah saw berkhalwat dgn agenda tertentu, dlm kasus beliau utk mendiskusikan sesuatu

      • Bertahap dulu yah,, ntar tulsiannya dilanjut, bhasannya 1 paket

        Saya ga tau itu kutpan ibnul Qayyim dari kitab mana, yang pasti saya asumsikan jika benar ada, dalam bahasan Al Isyq alias cinta yang berlebihan(sptnya ada di buku Terapi Hati ,dan Zaadul Maad,ntar saya cek lg),sedangkan dalam kasus2 contoh di buku Raudah AL Muhibbun, lebih banyak mengisahkan menjaga kesucian cinta dalam bab “Berbagai hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”

        contohnya spt diatas, agendanya macam2 bisa untuk mengekspresikan cintanya,mendengar perkataan yang makruf,tapi tidak melanggar syariat,untuk bahasan ini, byar sampai pemahamannya saya sarankan baca Buku Kebebasa Wanita terbitan GIP, tentang pertemuan laki2 dan wanita di buku jilid2, sama 5,dibawah naungan cinta(semoga bs smpt nulis satu bahasan utuh di blog ini),contoh lain

        ‘Utsman Al-Hizami mengabarkan, “Keduanya saling bertanya dan wanita itu meminta kepada Nushaib untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk bait-bait syair, maka Nushaib mengabulkan permintaannya, lalu mendendangkan bait-bait syair untuknya.”( taman orang jatuh cinta)

        Yang dimaksud dengan cinta karena Allah ialah hal-hal yang termasuk ke dalam pengertian kesempurnaan cinta kepada-Nya dan berbagai tuntutannya, bukan keharusannya. Karena sesungguhnya cinta kepada Sang Kekasih menuntut yang bersangkutan untuk mencintai pula apa yang disukai oleh Kekasihnya dan juga mencintai segala sesuatu yang dapat membantunya untuk dapat mencintai-Nya serta menghantarkannya untuk dapat meraih ridha-Nya dan berdekatan dengan-Nya. (hlm. 550)

        Demikianlah kisah-kisah yang menggambarkan kesucian mereka dalam bercinta. Motivasi yang mendorong mereka untuk memelihara kesuciannya paling utama ialah mengagungkan Yang Mahaperkasa,

        kemudian berhasrat untuk dapat menikahi bidadari nan cantik di negeri yang kekal (surga). Karena sesungguhnya barang siapa yang melampiaskan kesenangannya di negeri ini untuk hal-hal yang diharamkan, maka Allah tidak akan memberinya kenikmatan bidadari nan cantik di negeri sana…. (hlm. 650)

        mengenai hadits tsb, pasti akan menarik jika hani tau asbabul wurudnya ^^.silakan cek sendiri dalam silsilah hadits shahih (syaikh Albani rahimahullah),ntar coba postingin kira2 apa maksud hadits tsb

        ini baru pengantar , dulu riquest notes yang implisit yah https://rizkilesus.wordpress.com/2010/04/03/pacaran-kenapa-engga/

  2. Tulisan ini membahas menundukkan pandangan dan membahas berkhalwat tetapi tidak saling terkait. Kok tidak sesuai dengan judulnya?

    Kasus perempuan yang diantarkan pulang oleh lelaki menurutmu gimana? Kamu sepakat dengan tulisanku yang ada di blogku?

  3. tulisan ini dulu ada yang nanya,tuh yg paling atas,edisi di kategori mw dibuat ” bercinta pra khitbah”, tapi materinya terlalu banyak , tapi yang membahas ini baru sedikit
    tidak terkait karena pertanyaan2 hadits ttg pandangan dr Hani, saya jawab di sini,soalnya kalo di fb kepanjangan, yang berkaitan idenya sudah ada,Judul= biar masuk mbah google
    Kaidah ushul fiqih=hajah dan darurah , kasusnya kan memberi kemudahan daripada menutup jalan sama sekaliKalo memang bisa ber3 kenapa engga? kalo cuman ber2, asal terawasi sih ga apa2, kalo darurat itu masuk kaidah ushul

  4. Assalamualaikum…
    Lesus masih inget ane ? Fadhil nih ^^
    Subhanallah, tulisan antum bener-bener berbobot dan membuat berpikir, kalau boleh… Boleh saya menyadur beberapa tulisan antum ?? dalam notes dan blog saya *tentu saja sumber saya cantumkan ^^v*

    Syukron ^^

    • Waalaykum salam Wr Wb
      masih lah pernah temen sebangku baheula kala haha
      oh sok mangga,nuhun
      cuman kadang aga tiba2 ganti bahasan dlm 1 artikel,karena biasanya tulisan2 di blog ini berangkat dari pertanyaan

    • risya
    • March 8th, 2011

    like this

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: