Media dalam Timbangan…Timbangan dalam Media


Hari Rabu kemarin adalah sebuah hari yang menurut sebagian orang sangat penting,yang sebenarnya biasa-baisa saja,yang istimewa bukan harinya tapi subjek hari tersebut.Tanggal 9 Februari merupakan hari Pers Nasional (HPN). Hari Pers Nasional atau HPN 2010 menjadi tonggak sejarah baru di Indonesia,setelah kebangkitan pers setelah ordebaru dimana pers memililki suara lebih “bebas”.Bebas disini tentu saja “bebas” dengan ideologi dan subjektivitas pers tersebut. Pers sendiri jika kita tilik dari Undang-Undang Pers berarti lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.Dalam bekerja,terdapat aturan-aturan dan saat HPN terjadi kesepakatan dalam dewan pers yaitu tentang kode etik jurnalistik,perlindungan wartawan,dan juga tentang perusahaan pers.
Dalam perkembangan pers di Indonesia,media massa berkembang sangat cepat setelah era reformasi Semasa Orde Baru terdapat 289 media cetak, enam stasiun televisi, dan 740 radio. Setahun sesudah reformasi, media cetak melonjak menjadi 1.687 penerbitan, hampir enam kali lipat. Kira-kira empat media terbit saban hari dalam setahun itu. Era reformasi belum bisa menumbuhkan pers profesional sebagaimana diharapkan para sesepuh pers di Tanah Air. Wartawan masih merupakan pekerjaan sampingan sebelum seseorang dapat pekerjaan lain. Gejala ini terutama bagi pers daerah yang kesulitan mengembangkan diri.Sehingga dicarilah sebuah informasi yang memang dapat dijual dengan laku,ditengah persaingan media ini agar dapat menghidupi media tersebut.Tentu saja ada keterkaitan antara uang dan penyebaran informasi.Namun,ada juga media yang sudah memiliki kemampuan financial sendiri,maka kepentingannya dapat bergeser,selain menjual berita yang enak disantap,tetapi juga dpat memengaruhi penikmat informasi yang disajikan
Salah satu peran pers yang berimplikasi kepada sebuah kehidupan yaitu sebagai penyampai informasi kepada masyarakat. Ya informasi yang menjual tentunya,jika tidak menjual,maka informasi tersebut lebih baik dikarungkan saja dan dikepinggirkan.Oleh karena itu kita sering melihat informasi yang disampaikan media masa secara besar-besaran dan secara global .Dengan sifat informasi secara global,tidak ada batas-batas nasional dalam informasi,sehingga identitas nasional diganti dengan sebuah identitas global yang membentuk kebudayaan baru.Informai telah memaksakan selera dan idola bagi masyarakat dunia.Bagaimana kita lihat cara orang berpakaian dengan sesuatu yang digembar-gemborkan ,seperti “fashion” ,dimana pakaian yang mahal tapi belum tentu nyaman dipakai.Juga dapat memengaruhi cara berpikir seseorang.Informasi merupakan penentu bagi eksistensi masyarakat baru.Kekuatan informasi ini diyakini lebih tinggi dari money power dan menjadi the highest quality power(F.Drucker),sehingga dalam menimbang pers bisa saja dikatakan bahwa siapa yang menguasai media maka dia yang berkuasa.
Dalam pengumpulan informasi,dan pertimbangan yang dilakukan pers ialah berita tersebut benar atau tidak dan dapat dijual atau tidak, Dan ternyata ada pertimbangan lain. Media apapun jenisnya tentu bertugas untuk menyampaikan berita kepada masyarakat (publik). Wartawan atau Jurnali dalam pers memegang peranan penting karena Mau tidak mau para wartawan bekerja untuk media massa tertentu dan apa yang diberitakan sesuai dengan visi misi media tersebut.Tentunya nasib wartawan-wartawan saat ini dari segi penghasilan masih kurang,Kompas 9 Februari menyebutkan bahkan ada wartawan yang tidak digaji dalam tugasnya.Hal ini dapat memperjelas,bahwa bisa saja jika ingin gajih besar maka penyampaian semakin sesuai keinginan “atasan” maka semakin hidup makmur.Hal ini memang menjadikan berbagai versi informasi yang disampaikan oleh wartawan yang berbeda,sehingga Pers yang memang seharusnya netral dalam penyebaran informasi ,namun kenyataannya tidak selalu demikian.Banyak sekali contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Pers melalui media massa menjadi sebuah pihak yang berkuasa atas berita dan informasi yang disajikan kepada khalayak/publik. Media massa bebas akan memberitakan suatu kejadian dari sudut pandang apapun, dalam arti media massa memiliki kuasa untuk menyampaikan berita yang tentunya sesuai dengan visi-misi medianya. Jika media massa itu berlatar belakang sekuler maka berita-berita yang disajikan tentu selalu memandang dan menyajikan berita dari sudut Kapitalis Sekuler. Berita yang dituliskan berdasar sekulerisme tentu tidak akan jauh-jauh dari membangga-banggakan pluralisme, kebebasan beragama, pemisahan politik dari agama, penyerangan AS terhadap Irak akan dianggap untuk menumbuhkan demokrasi.
Atau media massa berlatar belakang islam ,maka Ia akan memberitakan bahwa Palestina sedang diserang Israel,dan rakyat disana sangat menderita,berbeda dengan media di AS yang menyebutkan bahwa teroris Hamas menyerang tentara Israel.Termasuk dampak perkembangan media di Indonesia saat orde baru,tentu saja media membawa visi sang penguasa dan setelah itu, maka membawa visi kepentingan “penguasa-penguasa” yang lain.Saat ini kita dapat dengan mudah mengakses informasi dengan banyak media dengan berbagai sumber dan pandangan berbeda,tetapi jika saat orde baru mengapa sulit mengakses informasi dan hanya kebanyakan hanya satu versi??

Inilah realita media massa. Dapat katakan kurang tepat jika ada media massa yang benar-benar objektif dan bersifat netral. Karena kita tahu setiap orang memiliki visi dan misi dalam hidupnya, yang memegang media massapun seperti itu. Takkan lepas dari tujuan untuk menyebarkan berita yang sesuai dengan visi

Dalam menimbang pers kita menyadari Dari media massalah kita tahu ada berbagai kejadian di dunia ini, namun yang jadi pertanyaan apakah benar media massa memberikan berita atau informasi yang sesuai dengan faktanya di lapangan? Inilah yang harus selalu di check dan recheck. Karena media massa adalah pengolah informasi yang memberikan berita kepada publik hasil editan. Ini pula yang patut dicermati benarkah informasi atau berita yang kita terima valid? benar dan dapat dipercaya?

Dapat kita akui,kita sudah tidak bisa hidup tanpa media massa,Dengan media massa kita dapat mengetahui secara langsung apa yang terjadi , tapi media massa pula yang bisa membrikan informasi yang tidak valid. Media massa membrikan berita yang harus kita saring dan analisis kebenarannya. Artinya jika kita mendengar suatu berita dari TV atau radio atau membaca koran maka kembali teliti berita tersebut dan coba bandingkan dengan media-media yang lain. Tentu setiap media memiliki versi yang berbeda dalam mengulas berita tersebut. Inti berita bisa jadi sama tapi sudut pandang yang dipakai akan berbeda. Dan hal ini sudah menjadi biasa dan kita rasakan sehari-hariContohnyatu saja berita PERSIB setelah dan sebelum bertanding selalu menjadi headline dalam salah satu Koran di Bandung ,berbeda saat saya di Bogor,dimana Persikabo di agung-agungkan.Belum lagi jika Persib kala,maka cara penyampaian berita di Bandung berbeda dengan berita ditempat tim yang mengalahkannyaInilah hal yang perlu dikritisi, media massa sebagai pihak yang menyampaikan berita sebenarnya tergantung visi misinya. Sehingga berita yang sajikanpun perlu tetap dikritisi.

Apabila dicermati,saat ini asing mulai memasuki ranah media massa di Indonesia.Cara asing mengambil keuntungan dan menanamkan ideologinya yang kapitalis mulai dapat dirasakan.Tidak hanya dalam hal fisik seperti pengambilan SDA oleh asing( Freeport,exon,chevron,dll),tetapi juga dalam hal mind control media pihak asing sudah memasukinya. Hal ini terlihat dari penguasaan asing terhadap media-media. Seperti penguasaan saham oleh MNC(Multy Nasional Corp) pada media TV.Tentu saja identitas pers local di poles dengan masuknya asing ke Indonesia.Bisa kita lihat sebuah stasiun TV yang di isi dengan tayangan-tayangan yang “berbau asing”.Melupakan identitas masyarakat sendiri.Menyajikan tayangan yang isinya hanya”hedon”,”hura-hura”,menghilangkan nilai etika ketimuran dan norma-norma agama, mencontoh kehidupan seperti mbahnya kapitalis disana.
Ada juga media nasional yang hanya menjual berita yang berbau politis dan terkesan menggiring opini publik didalamnya,seperti kasus-kasus yang sering kita dengar di TV,Koran,dll.Yang pada akhirnya jika sudah tidak laku dijual maka barang akan dibuang ke tong sampah dan akan digantikan dengan barang yang lain,tentunya setelah opini public dapat disuarakan sesuai visi media tersebut.

Media massa yang “booming” adalah media elektronik menjadi sangat sentral karena media massa eletronik seperti TV sudah merambah ke berbagai daerah termasuk pelosok-pelosok. TV akan dengan mudah diakses oleh sipapaun tidak memandang usia ataupun jender. Semua dapat dengan mudah mengakses. Dan pengaruh media elektronik TV ini ternyata sangat besar.Di Amerika pernah di adakan seminar tentang kehidupan ini dikendalikan oleh sebuah tabung yang bernama TV tersebut.Dengan tabung tersebut gaya seseorang dapat dipengaruhi,cara bergaul,bahkan sampai cara makan dan minum. Begitupun media cetakb yang beredar sekarang . Media massa yang selau berorientasi pada rating dan keuntungan materi akan dengan mudah memutar balikkan fakta demi sebuah kemenangan dan uang.Dan yang paling berkembang saat ini adalah media internet,yang sudah berbagai macam informasi berseliweran,namun dalam ranah pers tidak semua akses internet atau situs yang termasuk kedalam pers
Jika kita telusuri sebenarya pembawa berita seharusnya memiliki kriteria yang layak. Artinya setiap media massa harus memberiakan berita yang objektif dan mampu dipercaya. Seperti halnya dalam kode etik jurnalistik bahwa seorang jurnalis itu harus jujur maka media massapun harus seperti itu. Kuncinya adalah kejujuran. Dan kejujuran saat ini bisa jadi jarang kita temukan dalam pemberitaan.Saya adalah seorang muslim,dan ternyata dalam Islam ada cara memberitakan informasi secara akurat ,ada suatu berita yang memang sangat terjamin pemberitaanya sampai ke sumber awalnya.Ya,yaitu periwayatan suatu Hadits. seorang pembawa berita dalam meriwayatkan hadits memiliki kriteria yang super ketat sehingga tidak semua orang bisa meriwayatkan hadits. Inilah uniknya, jika kita bandingkan berita dikatakan valid jika yang membawanya juga memang berkualitas dan mempunyai kriteria yang tidak diragukan lagi. Inilah pembawa berita yang tentu akan selalu dipercayai dan pemberitaanpun sesuai dengan fakta yang ada dilapangan serta tidak diputar balikkan. Inilah Kriteria yang seharusnya dimiliki media massa saat ini.
Namun Pada saat konferensi pers kemarin,dikatakan bahwa fakta lapangan “Euforia pers masa reformasi memudarkan citra pers sebab pada masa ini berbagai ”perusahaan” pers didirikan dengan maksud tertentu. Perusahaan penerbitan semacam ini memperdagangkan kartu pers. Mereka sama sekali tak membayar para pekerja pers. Selembar ”kartu pers” menjadi senjata ampuh untuk mendapat keuntungan. Dengan itu, para ”pekerja pers” mengancam dan mendapat imbalan (baca: amplop). Anehnya, pejabat atau perusahaan yang diperas tak risih menyodorkan sejumlah uang kepada mereka. Gerombolan ini hidup enak dari hasil sweeping ke kantor-kantor pemerintah dan perusahaan-perusahaan. Bisa dibayangkan, pendapatan mereka justru lebih besar daripada gaji seorang karyawan perusahaan pers yang sesungguhnya.
Moral dan etiket tidak lagi jadi acuan. Boro-boro profesional, ”pekerja pers” jenis ini menulis berita saja belum becus. Wajar saja apabila citra pers model inilah yang dominan di mata masyarakat. Seharusnya, hal ini perlu disadari para pencetus pers Indonesia: memperbaiki citra pers dan menjadikan pers sebagai pekerjaan yang bergengsi dan bisa memberi penghidupan layak.
Hari Pers Nasional seharusnya menjadi tonggak sejarah bahwa wartawan Indonesia harus selalu berkarya dengan jujur ,dan menjaga kredibilitasnya ,sehingga wajah pers kita semakin baik dan informasi yang disampaikan memang menjadi lebih objektif,karena ideology pemilik media akan bertarung dengan ideology wartawan, dan menyisakan satu pemenang yaitu sebuah kebenaran.Kebenaran ilmiah bukan kebenaran semu yang disuarakan banyak media massa saat ini.
Sumber2 bacaan dan tulisan:
Kompas,Menggugat Pers Kita
Penyesatan Opini ,Adian Husaini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: