Gaya Bahasa Quran,siapakah penyusunnya??


Coba bayangkan ketika kita ingin mengarang sebuah buku, apa sebenarnya harapan kita ketika suatu saat kelak buku tersebut kita selesai tulis.Menurut saya,ketika kita membuat tulisan ,keinginan kita yaitu tulisan yang kita tulis di Baca oleh orang lain,sesuai dengan target dan keinginan kita tentunya.Jadi terdapat pihak-pihak mana yang dijadikan untuk tulisan dan akan dibaca oleh target tersebut. Penulis novel remaja jelas akan mengharapkan hasil karyanya dibaca oleh kalangan remaa pula, maka dia haruslah memakai bahasa dan gaya bahasa yang ‘hidup’ dalam lingkup dan konteks keremajaan. Maka jika kita baca novel-novel remaja zaman dahulu maka novel yang dibuat dentu berbeda dengan remaja zaman sekarang.Kita lihat di film-film yang diangkat dari novel bagaimana remaja tahun 80an dengan era remaja zaman sekarang.Tentu saja berbeda jauh,dan jika kita hidup zaman dulu disuguhkan novel remaja era millennium ini tentu akan ada rasa tidak nyambung.

Jika kita membuat sebuah novel roman picisan,jangan kira novel yang kita karang dan penuh romantisme dan meluapkan emosi perasaan kita dengan berapi-api akan menarik minat komunitas Fisikawan atau Ekonom untuk membacanya, karena buat mereka hal yang romantis justru muncul ketika berhadapan dengan rumus-rumus Fisika atau kaedah-kaedah ekonomi yang rumit. Bagaimana seorang matematikawan dalam komik QED sangat mencintai berpikir dan mencintai angka-angka dan logaritma.Baginya itulah romantisme…

Bagaimana dengan pencinta sejarah?? maka buku yang berisi rentetan peristiwa terkait dengan angka-angka tahun tertentu akan membuat pecinta sejarah itu berada alam dunianya sendiri dan tersenyum sendiri, cerita tentang nama Tokoh,bukti-bukti arkeologi mungkin itu yang akan dia tunggu-tunggu. Namun,tentu beda jika kita mengharapkan hal yang sama terjadi pada tukang bakso langgananya,justru senyam-senyum sendirinya itu yang lebih menarik minat tukang bakso ketimbang buku sejarah yang sedang dia baca. Apalagi saat kita membaca buku karya John Hersey “ A Bell For Adano” dan “The Wall”dan kita berikan kepada tukang becak dijalan lalu dia akan bertanya ini untuk apa,bisa untuk mengganjal kursi?? Jangankan tukang beca,kita pun belum tentu membaca buku tersebut heheh.

Dari buku yang sama, disatu pihak bisa bikin orang Indonesia ngakak abis ,atau mengernyutkan dahi tapi dilain tempat di Kutub utara senyumpun tidak ,bahkan buku John Hersey yang tadi merupakan buku favorit Einstein dan kita kebingungan ini buku apa sebenarnya buku yang membuat Einstein menikmatinya.Dan juga dari buku yang sama dibaca oleh orang yang sama akan berbeda pengaruhnya ketika dibaca pertama kali dibandingkan yang kedua kalinya, umumnya sebuah buku akan kehilangan ‘greget’ ketika dibaca untuk kedua kalinya.Pengalaman saya kalau komik tentunya makin lama berbeda gregetnya,juga novel jika dibaca paling bertahan 2 kali,dan sisanya dipajang dirak

Ketika kita menulis sebuah buku dan kita mengharapkan buku anda tersebut ‘sampai’ kepada SEMUA MANUSIA DALAM SEGALA JAMAN, mulai dari CEO sampai Wong Cilik,mulai dari Sabang sampai Tokyo,atau mulai dari anak kecil umur 5 tahun sampai kakeknya anak kecil tersebut dan setiap dibaca berulang-ulang, bisa membuat orang-orang menangis ketika dibaca keras dengan lantunan nada,Bisa menjadikan orang tersebut menjadi berpikir,merasa lebih baik dari sebelumnya,kira-kira buku seperti apa yang akan kita tulis???

Ada hal yang menarik ketika kita membaca Al Quran. Al Quran merupakan sebuah karya maka Al Quran bertujuan agar bisa dibaca tentunya,di mengerti,dan dipahami,lalu di jadikan sebagai pedoman dalam hidup manusia (seluruhnya).Yang tentu tercermin dari isinya yang menceritkan Keberadaan Yang Menciptakan,cara berhubungan dengan Yang Menciptakan,apa saja yang harus dilakukan jika ingin berhubungan dengan Yang Menciptakan,petunjuk yang diberikan agar sampai tujuan yang diberikan langsung oleh Yang Menciptakan,Aturan hidup agar selamat sampai tujuan akhir,Janji akan bertemu Yang Menciptakan suatu saat nanti,pelajaran kisah orang-orang dahulu yang tidak menaati peraturan Yang Menciptakan dan dijadikan sebagai pelajaran. ‘Sang Penulis’ Al-Qur’an (maksudnya dianalogikan kitab,namun Quran itu bukan buku tetapi firman Allah ) tentunya menginginkan si pembacanya lalu memang membaca, mengerti dan mengikuti apa-apa yang tercantum di dalam Al-Qur’an tersebut. Terdapat beragam tingkatan dan variasi dari orang-orang dituju oleh Sang Pencipta Al-Qur’an ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, laki-laki dan perempuan, dari bermacam status sosial, mulai dari ibu2 yang suka gossip saat belanja sampai bapak-bapak yang meeting melulu di kantor, mulai dari orang sehat sampai yang sakit sekalipun, dari bermacam-macam latar belakang ilmu arsitektur, politik,matematika,desain grafis,dll.

Lalu bagaimanakah seharusnya sebuah kitab harus ‘menampilkan dirinya’ agar bisa memenuhi keinginan Yang Membuatnya serta sesuai hasrat semua orang-orang itu..?? Dalam tulisan saya sebelumnya mungkin akan memberikan gambaran tentang susunan –susunan tulisan yang ada dalam Quran  Seri Quran,Susunanya berdasarkan apa

. Kalau Al-Qur’an disusun secara kronologis dan rapi ,apik,runut mulai dari awal sampai akhir seperti buku sejarah, mungkin hal tersebut sama sekali tidak memuaskan si ahli Fisika,atau desain.Kkalau kalimatnya “berat”malah bisa membingungkan sang pembantu yang tidak tamat SD, atau bocah2 pesantren di kampong-kampung. kalau bahasanya terlalu teknis, pastilah dianggap ‘cetek’ oleh sang pujangga atau penyair dan juga gampang ditiru-tiru dan dibuat yang lebih bagus.

Sebuah tulisan bisa membangkitkan hasrat dan memberikan dampak kepada pembacanya bila disaat membaca tulisan tersebut,Seperti membaca komik naruto anak-anak bertingkah seperti halnya naruto. Membuat orang yang membacanya seolah-olah mengikuti alur pemikiran yang membuat tulisan dan pikirannya terbaca dan masuk jleb ke dalam hati tentang makna-makna tulisan tersebut. Lalu bagaimanakah mungkin sebentuk tulisan yang sama (satu sumber) bisa membuat pembacanya yang datang dari bermacam-macam latar belakang tadi bisa ‘masuk’ dan terpengaruh oleh bacaan yang sama itu..?? “Ada cerita menarik dari Komaruddin Hidayat, mengisahkan tentang temannya, seorang Profesor di universitas McGill, Montreal, Canada yang telah masuk Islam. Profesor tersebut mengemukakan pendapatnya tentang Al-Qur’an : “Jika saya membaca buku-buku teori akademis, cukuplah seminggu persiapannya dan saya akan bisa menjelaskannya di depan mahasiswa saya 80% dari kandungan buku tersebut. Kalau saya membaca buku novel, maka cukuplah sekali saja, sudah malas untuk membaca kedua kalinya. Buku-buku ilmiah itu logikanya linier, runtut, mudah diikuti uraiannya, dengan metode ‘speed reading’ sebuah buku tebal bisa tamat dibaca hanya dalam waktu sehari.Namun ketika saya membaca Al-Qur’an, saya menemukan gaya penuturan yang sangat kompleks, adakalanya linier, lalu memutar balik, dan kalau dicermati saling berhubungan membentuk jaringan makna. Sekalipun saya membaca ayat yang sama seperti yang saya baca kemaren, saya menemukan adanya perbedaan kesan dan rasa”.

Dalam Al-Qur’an pendapat Sang Profesor ini terlihat jelas dalam pemakaian kata ganti subjek dan objek yang berubah-ubah, pergantian tersebut serasa ‘mengombang-ambingkan’ kita terlarut dalam kalimat yang sedang kita baca. Sulaiman ath-Tharawanah, dalam bukunya ‘Rahasia Pilihan Kata dalam Al-Qur’an’ mengemukakan pendapat ahli sastra Roman Jakson yang mengatakan :”Menjadikan struktur teks secara khusus sebagai objek kajian merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk menilai dimensi estetika suatu bahasa” dan ath-Tharawanah menyatakan bahwa :”dimensi estetika atau keindahan struktur teks-teks Al-Qur’an merupakan salah satu sisi penting kemukjizatan Al-Qur’an”, sehingga menimbulkan apa yang telah dirasakan dan diungkapkan Sang Profesor teman dari Mas Komar tadi.

Selanjutnya dicontohkan kisah dalam Al-Qur’an : Surat al-Kahfi, mengisahkan pelarian beberapa orang pemuda dari kaumnya yang zalim, bersembunyi dalam sebuah goa dan ditidurkan Allah selama 300 tahun : Pada awalnya, deskripsi kisah tersebut menggunakan kata ganti orang kedua yang ditujukan kepada pembaca (harap selalu diingat bahwa Al-Qur’an bukanlah berbentuk percakapan Allah dengan nabi Muhammad SAW, atau Allah ‘bicara’ nabi Muhammad mendengar, tapi Al-Qur’an merupakan firman Allah yang ‘diambil’ malaikat Jibril dari lauh mahfuzh, lalu disampaikan kepada nabi Muhammad SAW, untuk kemudian disampaikan lagi kepada kita, jadi fungsi Rasulullah disini hanyalah sebagai ‘pipa saluran wahyu’ tidak lebih dan tidak kurang)

9. Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

Kata ganti orang kedua pada ayat diatas menunjukkan proses dialog satu arah, antara pengisah yaitu Allah, dan pembaca atau pendengarnya. Lalu pada bagian berikut deskripsi kisah berubah menggunakan kata ganti orang pertama yang tidak tampak dan netral

: 10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”

Kalaulah Al-Qur’an diwahyukan dengan cara ‘dialog’ antara Allah denga nabi Muhammad SAW, maka ayat tersebut tidak akan berbunyi demikian tapi ‘ lalu mereka berdo’a kepada Kami meminta rahmat Kami dari sisi Kami dan meminta kesempurnaan petunjuk bagi mereka dalam urusam mereka’, hasilnya apa yang mereka do’akan tersebut tidak akan bermanfat apa-apa bagi kita, namun dengan ‘penyajian’ gaya bahasa seperti itu, do’a yang dipanjatkan oleh para pemuda tersebut bisa dipakai juga sebagai do’a kita kepada Allah kapanpun dan untuk urusan apapun.

Pada bagian berikut, deskripsi kisah berubah menggunakan kata ganti orang pertama :

11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

12. kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

Tujuan disampaikannya kisah-kisah orang terdahulu dalam Al-Qur’an adalah :

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf)

Dari rentetan ketiga ayat surat al Kahfi tersebut saja kita sudah bisa mengambil pelajaran, bagaimana cara berdo’a dan gambaran yang disampaikan bahwa Allah akan langsung mem’follow-up’ do’a yang kita panjatkan. Berdasarkan fakta tekstual dalam deskripsi ayat diatas, difahami bahwa yang menutup telinga mereka adalah pengisah itu sendiri, dengan demikian posisi pengisah yaitu Allah, adalah juga termasuk sebagai salah satu tokoh kisah yang memiliki peran cukup dominan. Saat kisah ini mulai diangkat dan ditujukan kepada umum, deskripsi perincian peristiwa mulai diucapkan oleh ‘orang pertama’ (pengisah) sang pemegang otoritas lajunya seluruh peristiwa dalam kisah, dan kita bisa merasakan semua kejadian sengaja diceritakan khusus kepada kita sebagai pendengar atau pembaca. Hal ini dapat kita tangkap dari penggunaan kata ‘alaika’ (kepadamu) setelah kata kerja ‘naqushshu’ (kami kisahkan).

Memasuki adegan selanjutnya, terlihat pengisah (Allah) menghendaki kita sebagai pembaca atau pendengar merasa menjadi bagian atau terlibat dalam cerita tersebut. Situasi ini dapat kita tangkap dari deskripsi perkataan salah seorang pemuda berikut yang seakan-akan ditujukan kepada kita tanpa perantara si pengisah. Karena itu kita seolah-olah berada bersama mereka mengalami sendiri kejadiannya. Pembaca seolah-olah menembus tembok pemisah dunianya menuju alam kisah sehingga larut dan terlibat dalam adegan kisah, mendengarkan mereka bicara langsung kepada kita :

14. dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Tentunya mereka tidak sedang berdialog dengan Tuhan yang mengisahkan cerita ini, bukan juga berdialog antara mereka sendiri, lalu kepada siapakah perkataan ‘Tuhan kami adalah tuhan langit dan bumi,,???’, mereka sedang bicara langsung dengan kita, kita seolah-olah ada disana mendengar mereka berkata langsung menghadapkan mukanya kepada kita. selanjutnya kita melihat bagaimana ‘kepiawaian’ gaya bahasa Al-Qur’an menyeret kita untuk ikut terlibat dalam cerita, mengambil pelajaran dan mengambil contoh perkataan dan do’a untuk kita pakai.

Dalam buku yang lain ‘Mukjizat Al-Qur’an’, ustadz Quraish Shihab mengungkapkan pemakaian kata yang menarik sehubungan tentang surga dan neraka

(Surat Az Zumar) : 71. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul..”

73. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu,…

Sepintas struktur bahasanya terlihat sama sesuai tujuan masih-masing, prosesnya juga sama, dibawa berombongan, setelah sampai pintu yang terbuka, dan penjaganya yang menyapa. Tetapi dari segi struktur dapat kita lihat arti yang berbeda namun bahasa menggugah yang diakui para penyair arab

‘izaa jaa uuhaa futihat’

izaa jaa uuhaa wafutihat’

Sedikit perbedaan dalam hal ‘pintu yang terbuka’, dalam ayat 71 tentang neraka ditulis ‘izaa jaa uuhaa futihat’, sedangkan dalam ayat 73 tentang surga ditulis ‘izaa jaa uuhaa wafutihat’ diartikan bagi penghuni neraka, pintu baru dibuka setelah mereka sampai di depan pintu, sedangkan untuk para penghuni surga, pintu surga terlah terbuka menyambut mereka sebelum mereka sampai di depannya.

Kita perhatikan kecermatan pemakaian gaya bahasa Al-Qur’an, bukankah kalau kita mengantar seorang penjahat ke penjara atau tempat hukuman, pintunya baru dibuka setelah kita sampai..?? bukankah kalau kita hendak menyambut tamu terhormat yang akan datang ke rumah kita, pintu gerbang rumah kita sudah kita buka lebar-lebar sebelum tamu tersebut datang,jika presiden lewat maka bukankah jalan dibuka untuknya?Apakah seorang presiden yang ingin masuk istana harus menglakson digerbang depan istana  ,baru dibukakan pintunya oleh penjaga..?? Banyak sudah kajian orang tentang pemakaian kata dan bahasa dalam Al-Qur’an, mudah-mudahan ini bisa anda jadikan pengantar untuk pendalaman lebih lanjut..

Sumber :forum.swaramuslim.net(archa)

Mukzizat Al Quran (M Qurai Shihab)

  1. ni

  2. Walaupun Al-Qur’an bisa dibaca oleh semua orang, tetapi sepertinya masih banyak orang yang malas membaca Al-Qur’an. Keindahan gaya bahasa Al-Qur’an memang terasa saat dibaca/didengar, tetapi sepertinya hanya sebagian kecil dari umat manusia yang mau membaca artinya/terjemahannya sehingga mereka tidak mengetahui informasi yang disampaikan melalui Al-Qur’an. Benarkah Al-Qur’an bisa dinikmati oleh semua orang? Atau hanya oleh orang yang mau mempelajarinya lebih dalam?

    • Komentarku tidak ditanggapi. Saya mendapatkan jawabannya, di buku “Sejarah Teks Al-Qur’an” karangan Al-A’zami. Walaupun sebagian kecil dari umat manusia yang memahami Al-Qur’an, tetapi masih lebih banyak daripada kitab agama samawi lainnya. Ini kutipannya, “kitab Injil boleh dianggap laris di mana banyak orang berminat membeli, akan tetapi hanya segolongan kecil yang berminat membaca. Sikap masa bodoh berjalan lebih jauh dari yang mungkin seseorang dapat bayangkan. Pada tanggal 26 Januari tahun 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang koresponden, Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara random jejak pendapat dari dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi kandungan sepuluh perintah tuhan. Hal ini bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan para pendetanya. Moralitas dasar orang Yahudi dan Kristen tidak lain sekadar gugusan kata-kata dalam kertas sedang Qur’an di pihak lain, dihafal seluruhnya oleh ratusan ribu, diterjemahkan ke dalam lebih kurang 9000 baris. Gambaran lebih terang tentang pengaruh yang mendalam dari Al-Qur’an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad tidak dapat diterka oleh siapapun.”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: